Kilas Balik Pencipta Figma: Dylan Field & Evan Wallace
Pencipta Figma adalah Dylan Field dan Evan Wallace, dua mahasiswa Brown University yang mendirikan Figma pada 2012 lewat pendanaan Thiel Fellowship, dan baru merilis versi publik pertamanya di akhir 2016 setelah empat tahun pengembangan diam-diam. Sebagai orang yang pakai Figma hampir tiap hari buat kerjaan, saya penasaran banget sama cerita di baliknya, dan setelah baca-baca sumbernya, jujur saya jadi makin respect sama tools ini wkwkwk 😮
foto Dylan Field (kiri) dan Evan Wallace (kanan)
Pencipta Figma adalah Dylan Field dan Evan Wallace, keduanya mahasiswa ilmu komputer di Brown University yang bertemu lewat mata kuliah WebGL. Field mendapat Thiel Fellowship senilai lebih dari USD200 ribu di tahun 2012 dengan syarat harus keluar kuliah, lalu bersama Wallace mengembangkan Figma diam-diam selama empat tahun sebelum akhirnya rilis publik di 2016. Figma sempat nyaris diakuisisi Adobe senilai USD20 miliar di 2022, tapi kesepakatan itu batal karena masalah regulasi di Eropa dan Inggris, dan Figma akhirnya melantai di bursa NYSE pada Juli 2025. 🚀
Siapa Sebenarnya Pencipta Figma?
Figma diciptakan oleh dua orang: Dylan Field sebagai CEO dan Evan Wallace sebagai partner teknisnya. Mereka berdua ketemu di Brown University, Field sebagai mahasiswa ilmu komputer yang juga memimpin CS Departmental Undergraduate Group, sementara Wallace jadi asisten dosen di departemen yang sama sekaligus jago banget soal grafik komputer. Titik temu mereka ada di WebGL, teknologi yang bikin browser bisa render grafis 3D dengan akselerasi hardware, sesuatu yang waktu itu belum banyak dieksplorasi buat kebutuhan desain kolaboratif.
Yang menurut saya menarik, Field itu bukan tipe anak IT konvensional dari awal. Dia sempat jadi aktor cilik, sempat mikir mau masuk hukum, bahkan sempat magang di O'Reilly Media sebelum akhirnya jatuh cinta sama web development. Latar belakang yang "nyasar-nyasar" kayak gini yang menurut saya justru sering melahirkan produk-produk yang out of the box, karena mereka nggak kebentuk sama satu cara berpikir doang. 🎭
Kenapa Saya Akhirnya Tertarik Nulis Ini
Setelah kemarin saya nulis soal Kilas Balik Pencipta Canva: Kisah Melanie Perkins, banyak yang nanya ke saya, "terus Figma gimana ceritanya?" Jujur, saya sendiri tiap hari buka Figma buat kerjaan desain, tapi baru sekarang beneran duduk dan baca lebih dalam soal siapa yang bikin, dan gimana perjalanannya sampai bisa sebesar sekarang. Ternyata ceritanya jauh lebih dramatis dari yang saya kira, ada drama akuisisi gagal senilai puluhan triliun rupiah segala wkwkwk.
Saya selalu suka baca cerita di balik tools yang saya pakai sehari-hari, karena entah kenapa itu bikin saya lebih menghargai proses kerjanya, bukan cuma menganggapnya "aplikasi yang emang udah ada dari sananya". Figma ini salah satu yang ceritanya paling nempel di kepala saya sejauh ini. 🥹
Yang Bakal Kamu Temuin di Artikel Ini
- Awal mula Dylan Field dan Evan Wallace ketemu di kampus
- Detail unik soal Thiel Fellowship yang mereka dapat
- Drama akuisisi Adobe senilai USD20 miliar yang gagal
- Klimaks cerita mereka di IPO 2025 dan pendapat pribadi saya
Awal Mula, dari Kampus ke Silicon Valley
Ceritanya dimulai di Brown University, tahun 2012. Dylan Field yang saat itu masih mahasiswa ilmu komputer, dapat kesempatan langka: Thiel Fellowship, beasiswa nyeleneh besutan Peter Thiel yang justru mensyaratkan penerimanya buat KELUAR dari kuliah, bukan lanjut sekolah. Ada satu detail lucu yang saya temuin waktu riset, katanya ketidaksukaan Field sama cokelat justru jadi salah satu faktor yang bikin dia lolos wawancara fellowship ini, entah gimana ceritanya persis, tapi cukup bikin saya senyum sendiri bacanya wkwkwk 🍫❌.
Field lalu mengajak Evan Wallace, temannya yang jago banget soal grafik komputer dan sempat jadi asisten dosen di kampus yang sama. Berdua, mereka pindah ke California dan mulai eksperimen macam-macam ide, dari software buat drone sampai meme generator, sebelum akhirnya fokus ke satu visi besar: bikin tools desain yang bisa diakses siapa aja langsung dari browser, gratis, dan bisa dipakai bareng-bareng kayak Google Docs tapi buat desain. Butuh waktu empat tahun penuh sebelum Figma versi publik akhirnya rilis di akhir 2016, dan di awal peluncuran beta-nya pun sempat dapat reaksi kurang bagus dari sebagian orang.
Menurut saya, bagian ini yang paling relate buat siapa pun yang lagi bangun sesuatu dari nol. Empat tahun itu waktu yang lama banget buat "diam" tanpa ada kepastian produknya bakal diterima atau nggak. Soal kegigihan kayak gini, saya jadi ingat cerita founder tools desain lain yang juga pernah saya tulis di Kilas Balik Pencipta Photoshop Thomas Knoll, ternyata pola ceritanya mirip, sama-sama butuh waktu bertahun-tahun sebelum dunia akhirnya "ngeh" sama apa yang mereka bangun.
Drama Akuisisi Adobe Senilai USD20 Miliar yang Gagal
Ini bagian paling dramatis menurut saya. September 2022, Adobe, raksasa software yang bikin Photoshop dan Illustrator, mengumumkan bakal mengakuisisi Figma senilai USD20 miliar, gabungan tunai dan saham. Ini jadi akuisisi terbesar sepanjang sejarah Adobe. Wajar sih kalau banyak desainer, termasuk saya, langsung was-was, soalnya Figma waktu itu dikenal sebagai "David" yang berhasil bikin "Goliath" (baca: Adobe XD) kalah telak di ranah desain kolaboratif berbasis browser.
Tapi drama belum selesai di situ. Regulator di Eropa dan Inggris mulai khawatir akuisisi ini bakal mematikan kompetisi di industri software desain. Setelah lebih dari setahun proses tarik-ulur, Desember 2023, Adobe dan Figma akhirnya sepakat membatalkan kesepakatan itu. Adobe bahkan harus bayar biaya pembatalan (termination fee) sebesar USD1 miliar ke Figma sebagai konsekuensinya. Ironisnya, Adobe XD sendiri, produk yang tadinya diharapkan "menang" lewat akuisisi ini, malah dihentikan pengembangannya nggak lama setelah kesepakatan gagal.
Jujur, waktu baca bagian ini saya ikutan lega, entah kenapa. Mungkin karena sebagai pengguna setia, saya diam-diam berharap Figma tetap independen dan nggak "terserap" jadi sekadar fitur tambahan di ekosistem Adobe. Perasaan ini murni subjektif sih, tapi menurut saya banyak desainer lain juga ngerasain hal yang sama waktu itu. 😅
IPO 2025, Klimaks dari Semua Drama Ini
Setelah gagal diakuisisi, Figma nggak lantas terpuruk, justru sebaliknya. Perusahaan ini terus berkembang, merilis fitur-fitur baru macam FigJam, Figma Slides, sampai fitur berbasis AI, dan akhirnya melantai di New York Stock Exchange pada 31 Juli 2025 dengan kode saham FIG. Hari pertama perdagangan sahamnya melonjak lebih dari 250%, sesuatu yang menurut standar IPO teknologi manapun itu luar biasa banget.
Yang menarik, Dylan Field masih pegang sekitar 75% hak suara lewat saham kelas B miliknya, sementara Evan Wallace yang sudah nggak lagi aktif di perusahaan sejak 2021 tetap punya kepemilikan lewat trust keluarganya. Ini menunjukkan meskipun Wallace udah "keluar panggung", jejaknya sebagai co-founder tetap dihargai dan diakui sampai sekarang.
Salah satu arah yang bikin saya penasaran dari Figma pasca-IPO ini justru soal fitur AI-nya yang makin agresif dikembangkan. Tren integrasi AI ke workflow kreator sekarang emang lagi di mana-mana, termasuk di dunia video, yang kebetulan pernah saya bahas juga soal Cara Pasang Plugin CapCut x Codex di ChatGPT. Rasanya semua tools kreatif sekarang lagi berlomba-lomba masukin AI ke workflow-nya masing-masing, dan Figma jelas nggak mau ketinggalan.
Apa yang Saya Pelajari dari Kisah Ini
Kalau boleh jujur, hal yang paling nempel di kepala saya dari cerita Dylan Field dan Evan Wallace ini bukan soal angka-angka fantastis akuisisi atau IPO-nya, tapi soal keberanian mereka mempertahankan visi awal selama empat tahun tanpa kepastian. Di dunia yang serba instan sekarang, rasanya makin jarang orang mau "diam" dan membangun sesuatu tanpa validasi cepat. Figma ngajarin saya, kadang produk yang beneran mengubah cara kerja industri itu emang butuh waktu lama buat "matang" dulu sebelum dunia siap menerimanya.
Saya juga jadi mikir ulang soal cara saya sendiri pakai Figma sehari-hari. Dulu saya cuma anggap ini "aplikasi desain yang enak dipakai", sekarang tiap buka Figma, entah kenapa ada rasa hormat ekstra ke perjalanan yang udah dilalui tools ini, dari kamar asrama kampus sampai jadi perusahaan publik bernilai puluhan miliar dolar. Kalau kamu penasaran gimana Figma dibandingkan sama tools sejenis buat kebutuhan harian, saya juga pernah bahas detail perbandingannya di Figma vs Canva: Detail Kelebihan dan Kekurangan, siapa tahu bisa bantu kamu mutusin tools mana yang paling pas buat kerjaan kamu. 💭
Pertanyaan yang Sering Ditanyain Soal Pencipta Figma
Siapa pencipta Figma?
Pencipta Figma adalah Dylan Field dan Evan Wallace, dua mahasiswa Brown University yang mendirikan perusahaan ini bersama pada tahun 2012.
Kapan Figma pertama kali rilis ke publik?
Figma dikembangkan diam-diam selama empat tahun sejak 2012, dan baru resmi rilis versi publiknya di akhir tahun 2016.
Apakah Figma jadi bagian dari Adobe?
Tidak. Adobe sempat sepakat mengakuisisi Figma senilai USD20 miliar di tahun 2022, tapi kesepakatan itu dibatalkan Desember 2023 karena masalah regulasi di Eropa dan Inggris. Figma tetap menjadi perusahaan independen.
Apakah Evan Wallace masih terlibat di Figma sekarang?
Evan Wallace sudah tidak aktif secara operasional di Figma sejak tahun 2021, namun ia tetap memegang kepemilikan saham lewat trust keluarganya.
Apakah Figma sudah jadi perusahaan publik?
Sudah. Figma resmi melantai di New York Stock Exchange dengan kode saham FIG pada 31 Juli 2025, dan sahamnya melonjak tajam di hari perdagangan pertama.
Kesimpulan Pribadi Saya
Nulis artikel ini bikin saya sadar, di balik setiap tools yang kita anggap "biasa aja" karena udah kepakai tiap hari, selalu ada cerita manusia yang penuh keraguan, keberanian, dan kadang keberuntungan di baliknya. Dylan Field dan Evan Wallace bukan jenius yang langsung sukses dari awal, mereka berdua sempat coba-coba ide yang gagal, sempat dapat reaksi negatif waktu rilis beta, bahkan sempat hampir "hilang" ditelan akuisisi raksasa. Tapi mereka bertahan, dan sekarang Figma jadi salah satu simbol bagaimana tools kolaboratif berbasis browser bisa mengubah cara kerja jutaan desainer di seluruh dunia, termasuk saya sendiri. 🙌
